Senin, 31 Maret 2014

BIDADARI BERCADAR HITAM


Bidadari Bercadar Hitam

“Dadah Mamah..,dadah Mamah….Sampai jumpa lagi ….”celotehan  Rama anakku dengan gaya yang lucu dan menggemaskan
”Mamah kesininya lagi kapan?” Pertanyaan yang membuatku luluh lantak,hatiku menjerit,belum juga aku menghilang dari pandangan matanya dia sudah berharap bersamaku lagi.
“Jangan pisahkan aku dan anakku Tuhan, aku mohon…”.
Aku manangis tertahan,kurasakan nyeri didada.Sesak nafas ini,dibalik kaca mata ada sedikit air mata yang mengalir.Hidung bereaksi dan mulut terasa kelu.Lengkap rasa  ini.Desahan nafasku lirih dan teratur agar semua nampak baik baik saja.
Di sebelahku, dengan jarak satu tempat duduk yang kosong,seorang perempuan dengan cadar hitam.Semua tertutup rapat, sehingga aku hanya mengangguk dan kami tidak bertegur sapa.Separoh perjalanan, travel berhenti di rumah makan,memberi kesempatan kepada penumpang untuk isoma.Karena tempat dudukku dekat dengan pintu, aku turun tanpa permisi.Ketika aku naik lagi, ternyata perempuan itu masih tetap ditempatnya.Kami terdiam, kemudian  perempuan itu membuka cadarnya.
                “Woow…Ibu cantik sekali…”kataku jujur dan spontan.Perempuan keturunan  Arab itu tersenyum.Seorang perempuan paruh baya yang sangat cantik.Walaupun senja hari,hanya disinari  lampu yang sangat terbatas,aku bisa melihat perempuan itu berkulit putih bersih,hidung mancung,wajah lembut keibuan.Jangan - jangan bidadari!Aku amati , tidak ada sayap, tidak juga tongkat ajaib,perempuan itu menawariku permen jahe.Ups, emang ada bidadari makan permen!Permen jahe lagi…hihihi…
                “Kenapa tadi mbak  menangis?”Aku terkejut, memandangnya ,menatap bola matanya.kemudian aku  tersenyum walaupun senyum yang dipaksakan.
                “Saya sedih karena meninggalkan anak saya”.
                “Kenapa sedih, anak mbak sehat ,pandai melucu dan ceria…”Rupanya perempuan ini memperhatikanku sejak awal.
                “Kenapa anak mbak ditinggal ?”
                “Karena suatu hal,saya menitipkan anak saya kepada orang tua . Ibu macam apa saya ini?” Aku terisak, tangis yang tadi tertahan pecah juga.
                “Kelas berapa?”
                "Kelas dua SD” Aku mengusap air mataku.
                “Mbak masih bisa menengoknya?
                “ Ya ,tapi tidak  setiap saat”
                “Mbak masih bisa mendengar suaranya?”
                “Ya,setiap hari saya telpon”.
                “Mbak masih bisa menengoknya, memeluknya, mendengar suaranya…,harusnya itu disyukuri”
Perempuan cantik itu menggeser badannya ,memandang kearahku, terjadi kontak mata diantara kami.
                “Saya tidak punya anak” katanya mengawali pembicaraan yang lebih intens.
                “Mungkin belum Ibu…” kataku berusaha menghibur.
”Dua kali saya mengangkat anak,tapi dua kali pula anak saya diambil oleh orang tua kandungnya.”Perempuan itu mengatakan dengan sangat tenang. Nada suaranya sama sekali tidak bergetar.
                “Kenapa tidak diadopsi?”
                “Suami saya tidak mau dengan alasan , bin atau binti nya”
                “Owh…”
                “Anakku diambil saat sekolah,dan sejak itu saya tidak diperbolehkan lagi untuk bertemu.Bahkan menelpon juga tidak boleh.Terakhir saya mendengar jerit tangis anak saya sebelum telpon ditutup.Saya sempat depresi “.Sempat?Berarti sekarang tidak lagi?
                “Owh…”
                “Untung suami saya orang yang sangat perngertian dan penuh kasih sayang,sehingga semua bisa kami lewati dengan baik baik saja.Aku tidak bisa berkata apa –apa,hanya amemandangnya dengan  penuh rasa simpati.
                “Mbak masih beruntung, bersyukurlah walaupun itu menyedihkan.Penderitaan mbak belum seberapa”.Aku mengangguk .Perempuan itu menutup wajahnya kembali  dengan cadar hitam.
                “Sekarang saya hidup bertiga , merawat ibu mertua yang tidak mencintai saya” Owh…leherku kembali tercekat.Sesaat kami terdiam.Tidak berapa lama kemudian perempun itu turun.Terlihat suaminya sudah menunggu,jarak usia mereka terpaut jauh. Setelah mencium tangan dan sang suami membalas dengan mengusap kepala istrinya,mereka menghilang dari pandangan karena travel melanjutkan perjalanan.
                Senja semakin larut,aku tersenyum walaupun rasa pilu masih menyelimuti .Terimakasih bidadari bercadar hitam…
Purwokerto, Dini hari 12 Maret 2014
Caissa Wawa