Bidadari Bercadar
Hitam
“Dadah
Mamah..,dadah Mamah….Sampai jumpa lagi ….”celotehan Rama anakku dengan gaya yang lucu dan
menggemaskan
”Mamah kesininya
lagi kapan?” Pertanyaan yang membuatku luluh lantak,hatiku menjerit,belum juga
aku menghilang dari pandangan matanya dia sudah berharap bersamaku lagi.
“Jangan pisahkan
aku dan anakku Tuhan, aku mohon…”.
Aku manangis
tertahan,kurasakan nyeri didada.Sesak nafas ini,dibalik kaca mata ada sedikit
air mata yang mengalir.Hidung bereaksi dan mulut terasa kelu.Lengkap rasa ini.Desahan nafasku lirih dan teratur agar
semua nampak baik baik saja.
Di sebelahku,
dengan jarak satu tempat duduk yang kosong,seorang perempuan dengan cadar hitam.Semua
tertutup rapat, sehingga aku hanya mengangguk dan kami tidak bertegur
sapa.Separoh perjalanan, travel berhenti di rumah makan,memberi kesempatan
kepada penumpang untuk isoma.Karena tempat dudukku dekat dengan pintu, aku
turun tanpa permisi.Ketika aku naik lagi, ternyata perempuan itu masih tetap
ditempatnya.Kami terdiam, kemudian perempuan itu membuka cadarnya.
“Woow…Ibu
cantik sekali…”kataku jujur dan spontan.Perempuan keturunan Arab itu tersenyum.Seorang perempuan paruh
baya yang sangat cantik.Walaupun senja hari,hanya disinari lampu yang sangat terbatas,aku bisa melihat
perempuan itu berkulit putih bersih,hidung mancung,wajah lembut keibuan.Jangan -
jangan bidadari!Aku amati , tidak ada sayap, tidak juga tongkat ajaib,perempuan
itu menawariku permen jahe.Ups, emang ada bidadari makan permen!Permen jahe
lagi…hihihi…
“Kenapa
tadi mbak menangis?”Aku terkejut, memandangnya
,menatap bola matanya.kemudian aku tersenyum
walaupun senyum yang dipaksakan.
“Saya
sedih karena meninggalkan anak saya”.
“Kenapa
sedih, anak mbak sehat ,pandai melucu dan ceria…”Rupanya perempuan ini
memperhatikanku sejak awal.
“Kenapa
anak mbak ditinggal ?”
“Karena
suatu hal,saya menitipkan anak saya kepada orang tua . Ibu macam apa saya ini?”
Aku terisak, tangis yang tadi tertahan pecah juga.
“Kelas
berapa?”
"Kelas
dua SD” Aku mengusap air mataku.
“Mbak
masih bisa menengoknya?
“
Ya ,tapi tidak setiap saat”
“Mbak
masih bisa mendengar suaranya?”
“Ya,setiap
hari saya telpon”.
“Mbak
masih bisa menengoknya, memeluknya, mendengar suaranya…,harusnya itu disyukuri”
Perempuan cantik itu menggeser
badannya ,memandang kearahku, terjadi kontak mata diantara kami.
“Saya
tidak punya anak” katanya mengawali pembicaraan yang lebih intens.
“Mungkin
belum Ibu…” kataku berusaha menghibur.
”Dua kali saya
mengangkat anak,tapi dua kali pula anak saya diambil oleh orang tua
kandungnya.”Perempuan itu mengatakan dengan sangat tenang. Nada suaranya sama
sekali tidak bergetar.
“Kenapa
tidak diadopsi?”
“Suami
saya tidak mau dengan alasan , bin atau binti nya”
“Owh…”
“Anakku
diambil saat sekolah,dan sejak itu saya tidak diperbolehkan lagi untuk bertemu.Bahkan
menelpon juga tidak boleh.Terakhir saya mendengar jerit tangis anak saya
sebelum telpon ditutup.Saya sempat depresi “.Sempat?Berarti sekarang tidak
lagi?
“Owh…”
“Untung
suami saya orang yang sangat perngertian dan penuh kasih sayang,sehingga semua
bisa kami lewati dengan baik baik saja.Aku tidak bisa berkata apa –apa,hanya
amemandangnya dengan penuh rasa simpati.
“Mbak
masih beruntung, bersyukurlah walaupun itu menyedihkan.Penderitaan mbak belum
seberapa”.Aku mengangguk .Perempuan itu menutup wajahnya kembali dengan cadar hitam.
“Sekarang
saya hidup bertiga , merawat ibu mertua yang tidak mencintai saya” Owh…leherku kembali tercekat.Sesaat kami
terdiam.Tidak berapa lama kemudian perempun itu turun.Terlihat suaminya sudah
menunggu,jarak usia mereka terpaut jauh. Setelah mencium tangan dan sang suami
membalas dengan mengusap kepala istrinya,mereka menghilang dari pandangan
karena travel melanjutkan perjalanan.
Senja
semakin larut,aku tersenyum walaupun rasa pilu masih menyelimuti .Terimakasih
bidadari bercadar hitam…
Purwokerto, Dini hari 12 Maret
2014
Caissa Wawa






